
BI Antisipasi Normalisasi Kebijakan Ekonomi Amerika Serikat

Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia /iconomics
Bank Indonesia (BI) mengantisipasi normalisasi kebijakan ekonomi di Amerika Serikat menyusul adanya tanda-tanda pemulihan ekonomi di negara itu. Namun, BI berkeyakinan negeri Paman Sam tak akan secara mendadak mengubah arah kebijakan ekonominya.
Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia mengatakan stimulus ekonomi yang digelontorkan pemerintah Amerika Serikat memang besar sekali. Bahkan terakhir, Presiden Joe Biden berkomitmen mengeluarkan stimulus hampir 20% dari PDB. Stimulus yang besar ini, menurut Destry, tentu akan menjadi tantangan terutama bagaimana melakukan normalisasi pada saat ekonomi mulai pulih (recover).
“Namun tentunya kalau ekonomi itu bergerak secara normal, supply-demand-nya akan berkembang, yang terjadi tentunya tidak akan membuat ekonomi itu overheating kalau tumbuhnya balance supply dengan demand. Akan menjadi masalah kalau supply-nya nggak bergerak, uangnya hanya ngumpul di demand side, ini akan menyebabkan inflasi,” ujar Destry dalam acara Temu Stakeholders Untuk Percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional di Surabaya, Kamis (1/4).
Kemudian terkait kebijakan suku bunga The Fed, Destry mengatakan, Bank Sentral Amerika Serikat itu akan belajar dari taper tantrum tahun 2013 dimana saat itu, pengurangan Quantitavive Easing (QE) menimbulkan kejutan (shock) di banyak negara bahkan di Amerika Serikat sendiri.
“Jadi seandainya pun dia (The Fed) melakukan taper tantrum pasti akan dilakukan secara bertahap,” ujarnya.
Bank Indonesia berkeyakinan, The Fed masih mempertahankan suku bunga rendah sepajang 2021 hingga 2022 nanti.
Bank Indonesia, tambah Destry, juga banyak mengeluarkan kebijakan moneter sepanjang 2020 hingga saat ini, seperti penurunan suku bunga hingga level 3,5%, kebijakan Quantitative Easing, dan dukungan likuiditas kepada APBN. “Ke depan tentunya kita harus memikirkan semcam exit strategy-nya, tetapi tentu kita harus melakukan analisa secara menyeluruh, apakah memang sudah ada tanda-tanda inflasi meningkat, apakah memang return kita ini sudah tidak menarik lagi dibandingkan negara lain. Jadi banyak pertimbangannya,” ujarnya.
Leave a reply
